Oleh - oleh Peyeum Tapai Knalpot dari Bandung!

Kembali dengan hutang blogpost tentang traveling lagi, kali ini sekitar 5 tahun yang lalu sekitar tahun 2009, bersama ke-3 sahabat saya dari SMA Aji, Ragil, dan Zilman. Ceritanya lagi sok-sokan touring kayak anak motor ke Bandung, saat itu Gue masih semester 4 kalau gak salah, berniat untuk ngumpul-ngumpul lagi pasca vakumnya band kita dari aktivitas musik underground (dulu band kita namanya Orpheus alirannya Metalcore) kita berempat memutuskan untuk bikin mini trip ke Bandung dengan niat agar lebih lama ngumpulnya.

Hari Jumat pagi kita putuskan untuk berangkat ke Bandung melalui Jonggol dengan 2 motor saja, mulur dari rencana awal berangkat selepas solat subuh kita berangkat sekitar pukul 6 pagi. Bensin motor kita isi full-tank (+/- 15rb/motor), motor yang berangkat Suzuki Spin hanya beda warna dan tahun keluarnya saja dan tentunya beda yang punya milik Gue dan Aji, gue pakai pertamax dan aji premium. urang lebih perjalan menempuh waktu 5 jam dengan kecepatan rata-rata 70km/jam. Bukannya gak mau mempercepat waktu tempuh, sayangnya motor Aji lagi kurang fit jadi tidak bisa dipacu lebih cepat belum lagi kendala ban bocor di cianjur dan habis bensin di padalarang. Peristiwa yang lucu adalah saat motor Aji habis bensin di padalarang yang saat itu jalan yang ditempuh menanjak, entah faktor mesin atau bahan bakar yang membuat motor gue lebih irit. Saat kehabisan bensin kita bertanya kepada seorang bapak soal POM terdekat beliau bilang gak jauh, tapi karena jalannya tanjakan kita memutuskan untuk berhenti dan naik angkot untuk beli bensin karena bensin motor gue juga sudah terlihat dasarnya takutnya malah mati di jalan juga. Gue dan Ragil yang berangkat mencari pom bensin atau eceran. Setelah memberhentikan angkot yang lewat kita bukannya naik, malah diam kebingungan. Kebingungan? iya kita nyari pintu buat naiknya dimanaaa??? akhirnya gue nanya sama sopirnya, "bang naiknya dari mana?" ternyata berbeda dengan angkot pada umumnya, angkot disana pintunya dibelakang (haha). Setelah naik gue dan ragil udah kayak orang aneh diliatin gara-gara ketawa beduaan aja tanpa ada perbincangan (bahasa batin), gue sama ragil paling gak bisa nahan ketawa, apalagi abis kejadian "nyari pintu". Belum sampe 100 meter kita udah turun, ternyata ada tukang bensin eceran dekat situ gak kelihatan karena faktor jalan yang berkelok. Hal lucu terjadi lagi, kita mau berhenti aja berdiskusi dulu "cuk disini bilang berenti gimana? atapnya gak ada papannya, apa bilang kiri sama kayak di jakarta?" kita kayak orang norak, padahal baru menuju bandung yang sudah berpuluh/ratus kali di kunjungin. Akhirnya kita memutuskan untuk bilang "bang pinggir". Setelah turun dari angkot kita langsung ke rumah warga yang jual bensin, hal lucu terjadi lagi.

Gue: "Bu aya bensin?"
Ibu: "Sekedap nya' " 
Ibu: "Teh, teh, teteh, aya na mau beli bensin"
* : "iya buu"
*: "maap,bensinnya se'ep a' "
Gue & Ragil: "....."

Kenapa kita sempat terdiam? si ibu kan manggilnya teteh ya, tapi yang nyaut teteh tetehan alias banci. Gue paling ngeri sama banci, gak punya pengalaman buruk tapi gak tau kenapa banci itu lebih serem dari gendoruwo kayaknya. Akhirya gue berdua gak jadi beli dan tetap melakukan diskusi lagi untuk manggil orang ini apa untuk mengucapkan terima kasih, teteh atau aa? akhirnya benang merah ditemukan untuk tidak menyebut merk cukup terima kasihnya saja (haha). Karena jarak dekat jadi kita jalan kaki untuk menemui zilman dan aji yang nungguin motor. Akhirnya kita putuskan untuk turun ke bawah tanpa menyalakan mesin (soalnya turunan), sampai akhirnya menemukan eceran dan isi masing-masing 1 liter karena bapak tadi bilang dekat. Setelah berjalan beberapa jauh akhirnya itu POM ketemu juga dan ternyata bro POMnya itu Jauh dari TKP! pokoknya jangan pernah percaya ketika orang desa bilang suatu jarak dekat! betis mereka mungkin dioplos sama betis kuda, soalnya disuruh jalan aja dekat katanya. 

Akhirnya kita sampai di Bandung sekitar pukul 1.30 siang setelah sebelumnya berhenti solat jumat di masjid raya cimahi. Masuk bandung kita bingung mau menuju balai kota tempat wisma murah yang kita baca dari internet saat itu belum ada yang pake smartphone untuk GPS. Akhirnya nanya ke pengendara sebelah saat di lampu merah, dia bilang dia searah jadi ikutin dia aja. Setelah membuntuti dia dari belakang ternyata dia bobotoh persib pakai jaket persib, deg deg ser doang ya karena saat itu sedang santer isu plat b di hancurin. Berbisik sama ragil soal kemana kita dibawa, beneran dikasih tau jalan apa di sandera nantinya (terlalu ngayal). Ternyata orangnya ramah dan bener nunjukin persis di depan balai kota.

Setelah ketemu wisma yang dituju, kita langsung loading barang bawaan ke kamar sekalian istirahat setelah perjalanan panjang . Harga kamar saat itu 150rb/hari dengan fasilitas double twin bed, kamar mandi dan AC, dan TV, kita menyewa satu kamar untuk dua hari (karena kamarnya luas). Bangun tidur saat sore hari kita cari makan dan city tour kota bandung. Sebelum kembali ke wisma kita gak lupa beli kartu domino dan remi untuk hiburan di wisma kita juga bawa Playstation kesana, cuma bodohnya Zilman hanya bawa stick satu buah. 

Ini kamar wismanya, cukup luas dan nyaman untuk istirahat
di salah satu pusat belanja di bandung


Keesokan harinya kita menuju ke kawah putih daerah Ciwiday, berangkat sekitar pukul 10 pagi. Seperti layaknya kaum pendatang kita gak malu untuk bertanya, namun bodohnya si Aji dia gak malu bertanya sama siapapun termasuk orang gila! Jadi saat ada perempatan kita bingung harus ke arah mana untuk menuju ciwiday, nah Gue suruh Aji yang saat itu gue boncengin untuk bertanya. Dia menghampiri bapak-bapak yang sedang duduk persis di sudut simpang. 

Aji: "Pak misi, mau tanya..." 
Bapak: "...."
Aji: "Ke ciwiday kemana ya pak?"
Bapak: "...."
Aji: "pak.."
Bapak: "...."
Gue: "bek, itu orang sedeng bek! itu nyeker sama celananya sobek-sobek"

Akhirnya setelah bertanya kepada orang lain kita samapi di kawah putih pukul 4 sore dengan biaya 5rb/org. Sampai di atas, cuacanya lagi dingin-dinginnya bro! sampai buat nyalain korek api aja susah soalnya kaku jari-jarinya, ngomong pun udah kayak bule lagi musim dingin, berasep. Hal lucu berikutnya saat hendak menolong orang yang minta di fotoin ditepi kawah, mungkin karena orang itu sangat ingin terlihat menyatu dengan alam dia terlalu ketepi sehingga sebelah kakinya terhisap kedalam kawah karena longsor pijakannya. Bukannya nolongin kita malah ketawain dulu orangnya (haha). Karena sudah mulai gelap kita putusin untuk turun ke bawah, beberapa meter dari kawah ada bapak bapak yang menepikan motornya yang sedang bawa barang, bermaksud menolong takutnya ada apa-apa kita puter balik dan menanyakan ada apa karena sudah mulai gelap dan sepi. Setelah disamperin, ternyata dia lagi nunggu temannya yang masih dibawah. Sampai dikota bandung kita langsung menuju wisma untuk makan malam yang sebelumnya beli ayam di perjalanan pulang yang sudah dingin sampai wisma. Setelah itu kita keluar lagi untuk cari oleh-oleh karena besok akan pulang ke jakarta.   

Kawah putih lagi dingin-dinginya
ready to get back

Hari minggu pagi kita siap-siap untuk pulang ke jakarta, di padalarang kita mampir beli tape 2 kilo yang saya ikatkan di handle belakang motor, sepanjang perjalanan gue selalu menyakan ke Aji kondisi tape aman atau nggak dan Aji bilang aman. Sampai cianjur, entah ada yang iseng atau nggak ada petunjuk arah jakarta belok ke kanan, karena lupa-lupa ingat kita ikutin petunjuk jalan itu. Tapi beberapa saat ngikutin jalan, ada yang janggal karena gak pernah merasa melalui jalan ini. Sampai akhirnya motor berhenti karena macet, kebetulan jalannya sangat pas untuk 2 mobil. Saya penasaran nanya macet ada apa, tapi orang-orang bilang gak tau. Akhirnya kita nanya didepan ada apa, orang yang gue tanya bilang laut, nahlo kenapa bisa ada laut di jalan Bandung-Jakarta? kalopun nyasar gak mungkin sejauh itu. Akhirnya kita puter balik dan berhenti di warung untuk nanya jalan dan minum. Saat diwarung Gue ngecek kondisi dunia pertapean yang di iket di motor dan ternyata iketanya kendor dan salah satu keranjang tape nempel di knalpot motor! anget sih jadinya tapenya tapi kan jadi hitam kotor, ini semua salah Aji yang selalu bilang aman saat saya tanya, jadi kita menghukum bebek untuk memakan tape yang nempel knalpot itu (kejamnya ya, haha). 

Setelah lanjut perjalanan, di jonggol kita sudah merasa lapar namun uang di dompet sudah sangat pas untuk isi bensin sekali lagi, cuma sisa sekitar 7rb kalo gak salah. Akhirnya kita putusin untuk beli mainum dan tolak angin. Seenggaknya perut gak masuk angin karena kosong (haha). Akhirnya kita sampai di rumah Ragil yang menjadi chehckpoint terakhir dalam trip ini sekaligus meluapkan kelaparan sepanjang perjalanan dan juga bagi-bagi tape yang sudah berkurang sebagian karena kena knalpot. 

Dan pembagian tape knalpot tersebut merupakan penutup dari trip dan artikel ini, bukan perjalanan mewah namun sangat seru dan tak terlupakan, selalu ada peristiwa bodoh yang selalu menjadi bahan bercandaan hingga sekarang dan trip ini berbudget gak sampai 150rb/orang. Murah, Seru, berkesan apalagi dengan orang-orang terbaik. Hingga kini kita masih menyempatkan waktu untuk berkumpul apalagi saat Gue pulang ke jakarta (sekarang gue lagi ngerantau ke pulau seberang). Kekeluargaan ini sudah berlangsung kurang lebih dari 8 tahun sudah, kita sudah sangat mengenal karakter masing-masing orang dan gak pernah berantem sama sekali! Viva La Orpheus!

I called them home

" When we met people, had no conversation and then walked away and felt like we had the best conversation that's best friend" - Dimas Geel

  

0 comments:

Post a Comment

 
There was an error in this gadget

Author Profile

My photo
Shout it loud and do judge a book by its cover!