Fakta Negatif Gojek bagi Saya

GoJek Force img source http://cicakkreatip.com
Halo! sudah lama gak update blog lagi nih. Kali ini Gue mau ngebahas hal yang lagi booming di Indonesia khususnya Jakarta, soal Gojek! Belakangan ini sangat sering kita jumpai para pengendara motor mengenakan helm dan jaket hijau-hijau kan? dalam ilmu marketing ini bisa masuk dalam Psychical Evidence yang terdapat dalam marketing mix 7P

Marketing mix 7P dapat diterapkan untuk bisnis Jasa, tapi bukan berarti bisnis produk tidak bisa menerapkan marketing mix 7P. Kembali ke Gojek, atribut ini menjadi sarana media promosi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan Gojek yang disebut brand awareness. Eksistensi Gojek sangat terbantu akan atribut-atribut yang digunakan oleh Driver Forcenya ditambah dengan pemberitaan mengenai keuntungan dari pelaku Gojek yang sangat marak di media, baik cetak maupun elektronik. 

Tingginya minat masyarakat untuk ikut bergabung bersama tim Gojek ini sangat terasa dan kasat mata. Mulai dari banyaknya pasukan hijau di lapangan hingga turnover karyawan yang mulai terjadi dibeberapa perusahaan. Tingginya biaya hidup di Jakarta khususnya membuat para pencari nafkah mencari kerjaan sambilan dan Gojek sangat mengakomodir masalah tersebut. 

Tanpa bermaksud mejelek-jelekan Gue ingin mengangkat poin turnover karyawan kantoran setelah adanya Gojek ini.  Gue merasakan betul dampaknya Gojek terhadap kinerja dan perpektif para karyawan khususnya kantor tempat Gue bekerja sekarang. Gue bekerja di bidang distributor salah satu produk dan mendapatkan tanggung jawab menangani beberapa team/staff lapangan. Tingginya tekanan mengenai omzet perusahaan setidaknya memberikan banyak dampak pada para karyawan. Seperti hal yang Gue sebutkan sebelumnya mengenai tingginya biaya hidup, membuat para staff yang ada di kantor Gue tergiur dengan iming-iming Gojek. Secara logika, saat orang sudah mendapatkan benefit yang menggiurkan dari gojek , lambat laun mereka akan meninggalkan pekerjaan yang memiliki tekanan tinggi salah satu contohnya yaitu profesi sales. Memang sangat tidak ada yang salah dari pemikiran tersebut, kerja halal dapat uang banyak? Siapa yang gak mau?

Gojek menawarkan benefit yang (katanya) besar! kerja sesuka lo dan rasakan benefitnya sendiri. Usaha berbanding lurus dengan pendapatan. Teori ini berlaku juga pada Gojek dan akhirnya staff yang tadinya menjadikan gojek sambilan berubah menjadi kerjaan utama. Hal ini yang mungkin sangat dirasakan bagi perusahaan yang banyak karyawannya "alih profesi".

Poin yang ingin Gue tekankan itu adalah Gojek ini membuat para pemimpin tim kehilangan staffnya atau krisis kepercayaan. Gak bisa dipungkiri banyak orang yang masih gak bisa menjalankan tanggung jawab dengan baik, hal itu yang menjadikan sebuah krisis kepercayaan. Gue pribadi memiliki pengalaman sesorang staff Gue meminta izin untuk menjalakan gojek di luar jam kerjanya. Gue gak bisa melarang hal tersebut, tapi dengan garis bawah tidak dilakukan di jam kerja. Karena tim gue bekerja 95% dilapangan yang artinya pengawasan lebih rendah dibanding kerja di dalam kantor, membuat Gue krisis kepercayaan terhadap staff gue tersebut. Karena dilihat dari jejak performa kerjanya jauh menurun sebelum dia ikut Gojek. 
Harusnya tidak salah kalau gue sampe punya asumsi "mungkin dia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya dan menjadi pasukan gojek di jam kerja". Yang akhirnya saat gue melakukan analisa dan cek pekerjaan dia asumsi itu makin kuat. Staff gue ini merupakan salah satu staff gue yang paling lama dan berpengalaman, turunnya performa dia membuat gue harus mengevaluasi ulang kelayakan dia bekerja dan akhirnya dia memilih resign karena dia bisa mendapakan 1 juta rupiah perminggu dengan kondisi dia masih bekerja, apalagi kalau menjadikan gojek sebuah pekerjaan fulltime

Lepasnya salah satu staff yang berpontensi membuat gue harus mencari penggantinya dan tentu harus start dari nol lagi dan hal ini terjadi pada karyawan lainnya di beda divisi. Hal tersebut mempengaruhi indeks performa Gue dan tentunya Kantor Area dengan turnover yang banyak ini. Dampak negatif Gojek yang gue rasakan dan cukup menjadikan momok bagi gue atau tepatnya perusahaan lain.

Tidak ada yang salah dari Gojek maupun karyawan-karyawan lainnya, karena hidup itu pilihan. Merupakan keputusan tepat jangka pendek saat mendapatkan gaji dengan waktu yang bebas, tapi sampai kapan kah hal itu berlaku? Pernah berfikir gak saat 70% pekerja di Jakarta beralih menjadi gojek? terus Gojek mencari penumpang kemana? haha. 

Hal yang hampir telupakan juga adalah semakin meningkatnya orang yang menabaikan safety riding.
Gak bisa dipungkiri mekanisme kerja gojek membuat si Gojek sering sekali melihat gadgetnya dan acap kali dilakukan saat berkendara. Karena gue sendiri pun pernah merasakan dampaknya, saat nyaris tertabrak si Gojek yang mungkin lagi me-tracking lokasi pelanggannya.

Well ini hanya sebuah curahan hati dan opini gue mengenai dampak negatif Gojek bagi gue. Hidup itu memang pilihan, jangan sampai salah pilih ya mantan karyawan! hehe.

3 comments:

  1. Replies
    1. Udah lama gee, after co.cc di block mutasi kemari.

      Delete
  2. Pagi,
    Kalau boleh tau Dimas geel bekerja di perusahaan apa? Apakah masalah turnover karyawan ini masih berdampak sampai sekarang?

    Thanks in advance

    ReplyDelete

 
There was an error in this gadget

Author Profile

My photo
Shout it loud and do judge a book by its cover!