Ayah Ibu Tolong Mengertilah

Hai bloggers! Kali ini mau bahas opini gue seputer dunia kuliah yang berkaitan dengan dunia pekerjaan. Ya, tentunya ada sedikit pengalaman pribadi lagi. Setiap artikel yang gue buat cenderung ada kaitan dengan kehidupan pribadi, makanya bisa beropini. Sebelum mulai, gue mau ketawa kecil dulu untuk judul artikel yang begitu "drama". Terlihat seperti artikel - artikel motivasi gitu gak sih? (haha).

Kalau boleh jujur, kuliah yang gue jalani dulu sebenernya bukan jurusan yang gue minati saat itu, tentunya dilihat dari bakat dan minat gue. Gue kuliah di Universitas Negeri Jakarta Jurusan Manajemen dan butuh waktu 5 tahun untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi gue. Tapi mungkin setelah bekerja dibeberapa tempat selama kurang lebih 2 tahun pasca kelulusan, gue punya opini yang gue tarik dari pengalaman pribadi dan kondisi sekitar gue.

Akhirnya wisuda juga, setelah 5 tahun "mengakali" kuliah gue

Banyak orang tua yang ingin anaknya masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN), termasuk salah satunya orang tua gue. Siapa yang tidak bangga anaknya bisa masuk PTN sih? kita sendiripun pasti bangga. Namun, ada beberapa hal yang mungkin dilupakan orang tua kita bahkan kita sendiri.

1. Apapun jurusannya yang penting PTN

Banyak kejadian yang dialami orang sekitar gue, bahwa dia dituntut untuk dapat masuk PTN sehingga dia ambil jurusan yang cendurung sedikit peminatnya untuk dapat memenuhi "yang penting negeri". Hasilnya? mungkin banyak yang bisa bertahan kerja di bidang yang sesuai dengan jalur pendidikannya, tapi cukup banyak juga yang justru dapet jauh dari bidangnya. Tanpa berniat memojokan salah satu jurusan atau bidang tertentu, salah satu contohnya seorang sarjana pertanian bekerja di dunia perbankan karena tuntutan "Malu belum dapat pekerjaan". Ada korelasinya gak sih kira-kira? Ekonomi dan Teknin Pertanian, menanam uang nasabah supaya bisa reproduksi uangnya gitu? (haha). Memang beberapa pekerjaan tidak butuh latar belakang pendidikan yang sesuai, namun dari diri pribadi jadi beban moral gak sih kalau kita gak menguasai bidang dasarnya? Memang semua bisa dipelajari seiring berjalannya waktu, tapi yang gue pikir kemaren kuliah ilmunya untuk apa? (hehe).

2. Jurusan gak sesuai dengan bakat dan minat

Berkaitan dengan poin pertama, kuliah yang diambil gak sesuai dengan bakat dan minat kita. Bisa jadi kita gak sungguh-sungguh dalam kuliah, bahkan ada yang sampe putus sekolah karena memang gak sesuai atau jadi males kuliah. Pengalaman gue pribadi, bakat dan minat gue di bidang kreatif dan gue kuliah dibidang Ekonomi. Gue pengen banget jadi desainer karena dari dulu gue suka gambar-gambar, tapi karena saat itu PTN yang ada jurusan DKV (desain komunikasi visual) cuma ada di UNS Solo jadi gak diizinin karena bakal nambah biaya jika harus keluar kota, dan ambil swasta saat itu cukup mahal dan "bukan negeri" (ngerti kan ya?). Hasilnya, semester 1 gue cuma bisa dapat IP 2,5, terhitung rendah diantara temen-temen gue yang lain. Namun setelah gue kenal yang namanya Manajemen Marketing, gue mulai bisa "mengakali" cara belajar dan kuliah gue. Semester 2 IP gue bisa naik ke 2,75 lalu Semester 3 gue bisa dapat IP 3, sekian (lupa) dan akhirnya gue bisa menutup IPK gue saat lulus di 3,01. 

Kenapa gue memilih kata "mengakali"? Mungkin gue gak bisa kuliah desain, namun gue kuliah di jurusan bapaknya desain. Marketing itu dituntut untuk bisa tau semua hal dan kreatifitas tingkat tinggi, design itu menginduk pada subjek promosi atau komunikasi yang masih menginduk dalam Satu kata Marketing. Mungkin gue gak bisa sedalam anak desain dalam belajar ilmu desain, tapi seenggaknya gue bisa "mengakali" kuliah gue, mungkin nilai gue yang bagus cenderung ke mata kuliah yang gue suka. Karena secara gak langsung kita akan semangat belejar hal yang kita suka kan? Tapi gak semua orang bisa punya kesempatan dan kemauan untuk mengakali kuliah yang tidak mereka sukai seperti gue.

3. Mencari kerja zaman sekarang susah

Kalau kita bisa beruntung lulus dijurusan yang "aneh" masih ada tantangan berikutnya, mencari perusahaan yang membuka untuk jurusan yang "aneh" tersebut. Sekali lagi tanpa bermaksud memojokan suatu bidang ilmu, gue memberikan contoh seperti sastra jawa. Seberapa banyak perusahaan yang buka untuk jurusan sastra jawa? terus sekuat apa idealisme kita untuk tetap istiqomah sama latar belakang pendidikan kita? atau gak kuat terus ambil bidang diluar "kemahiran" kita?

Gak bisa dipungkiri zaman sekarang susah cari pekerjaan, apalagi untuk para "fresh graduate" yang selama kuliah kerjaannya KUPU-KUPU (kuliah pulang-kuliah pulang) tanpa dibekali pengalaman dibidang tertentu. Saingan sangat banyak tentunya dengan pengalaman dan latar belakang pendidikan yang beragam, lalu kalau sudah gak sesuai dengan latar belakang pendidikan, gak punya pengalaman, mau bilang apa?

Jadi, untuk para orang tua, tolong mengertilah bahwa zaman sekarang kehormatan lulusan tinggi negeri gak semewah dulu. Bahkan banyak perusahaan yang gak menilai setinggi apa IPK kita, meskipun tetap ada batas standarnya. 

Ayah Ibu tolong menegertilah, bahwa bekal kami para anakmu ini bukan hanya dari ilmu dibangku kuliah sehingga rutinitas hanya kuliah dan pulang kerumah. Kami butuh pengalaman tentang dunia kerja dan dunia organisasi yang dapat menunjang nilai kami dimata Perusahaan-perusahaan nantinya karena IPK tinggi bukan jaminan.

Dan tolong mengertilah wahai teman-teman dan adik-adik, bahwa penyesalan itu datangnya diakhir bukan diawal. Karena kalau diawal namanya pendaftaran (haha), jadi manfaatkanlah "waktu bebas" mu saat kuliah sebaik mungkin.  Kumpulkanlah bekal hidup sebanyak-banyaknya.

Pengalaman pribadi Gue pun sempet dinasihati oleh keluarga maupun teman, yang isinya "kuliah dulu yang bener baru kerja, yang IPKnya tingginya aja susah". Tapi Gue sadar dunia kerja itu keras dan bekal kita gak mentok di IPK bagus. Sehingga gue agak bandel untuk tetap menyambil kuliah dengan kerja dan jualan, hasilnya? ilmu mengenai IT dan dunia internet gue bertambah saat gue menyambi kerja di Street Directory. Ilmu gue tentang organisasi gue bertambah saat gue ikut panitia acara kampus dan ikut organisasi diluar kampus. Dan yang pasti ilmu gue tentang hidup bertambah saat gue kenal dan lihat situasi hidup orang lain saat gue diluar kehidupan belajar dan keluarga.

Jadi inti dari opini gue ini bukan "Jangan masuk PTN" tapi pertimbangkan lah masa depan kita dari awal pilihan kita dan biasanya orang tua masih mengambil andil dalam pemilihan tersebut. Untuk didunia kerja professional pilihan awal menurut gue itu dari pemilihan jurusan kuliah, karena disitu dasar ilmu profesional diambil sesuai bidangnya. Oh iya lupa, mungkin opini dari gue ini gak berlaku sama orang yang duitnya banyak sehingga punya modal buat buka usaha sesuai latar belakang pendidikannya (hehe).

Pengalaman itu ilmu yang paling berharga, cukup gue yang harus ngaret 1 tahun karena gak fokus skripsi, cukup gue yang telat "mengakali" kuliah gue supaya dapat IPK bagus. Semoga dengan membaca ini, ada sedikit manfaat yang bisa diambil.

0 comments:

Post a Comment

 
There was an error in this gadget

Author Profile

My photo
Shout it loud and do judge a book by its cover!